G20 Digital Innovation Network Mencari Startup dengan Dampak Global

Dunia tengah menghadapi berbagai krisis, mulai dari pandemi, endemi, perubahan iklim, hingga konflik peperangan. Tantangan untuk menghadapi dampak global tersebut dibutuhkan kerjasama atau kolaborasi dari berbagai negara dan sektor.

Saat ini, tujuh dari 10 perusahaan terbesar di dunia berada di sektor teknologi. Startup yang melahirkan inovasi teknologi harus bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk membuat solusi tersebut menjadi scalable. Untuk itu, G20 Digital Innovation Network mengangkat tema The Rise of Digital Economy: Post-Pandemic Recovery and Beyond.

G20 Digital Innovation Network adalah forum perdana untuk berbagi pengetahuan, mendorong diskusi, dan membangun kemitraan di antara para pemain inovasi global.

Forum ini diinisiasi oleh Italia pada 2021 dengan nama G20 Digital Innovation League dan memilih 10 startup terbaik, yaitu ACT Blade, Biomicrogels Group, Dott, Ntechlab, Nalagenetics, Poka, Ruangguru,  Sansure, Virtuo, dan  Zerynth. Tahun ini, G20 Digital Innovation Network mencari 100 startup paling menjanjikan di 5 sektor prioritas, yaitu Healthcare, Renewable Energy, Smart Society, Financial Inclusivity, dan Supply Chain.

Forum ini akan berjalan secara hybrid, daring dan luring dari Bali. Berlangsung pada 2-4 September 2022, G20 Digital Innovation Network menghadirkan dengan berbagai sesi termasuk startup pitch, keynote speech, diskusi panel, acara budaya, pertemuan bisnis 1-on-1, dan sesi networking kelas dunia. 

Dengan membangun jejaring antara sektor publik dan privat sebagai esensi utama dari forum ini, G20 Digital Innovation Network membangun sebuah platform digital untuk memudahkan startup, pemodal ventura, korporasi, dan pembuat kebijakan saling berkenalan dan berkomunikasi. 

Menumbuhkan kolaborasi global ini penting mengingat G20 memiliki peran strategis dalam mengamankan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi global di masa depan. Secara keseluruhan, anggota G20 mewakili lebih dari 80 persen PDB dunia, 75 persen perdagangan internasional, dan 60 persen populasi dunia.

Untuk mengetahui G20 Digital Innovation Network lebih lanjut, kunjungi https://g20innovationnetwork.org.

Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 Dukung Dana Perantara Keuangan untuk Pandemi PPR

Yogyakarta, 21 Juni 2022 – Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia menyelenggarakan 1st G20 Joint Finance and Health Ministers’ Meeting (JFHMM) di bawah Kepresidenan G20 Indonesia secara hybrid. Pertemuan dipimpin oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh anggota G20, undangan, dan organisasi internasional. JFHMM diselenggarakan dalam rangka untuk berdiskusi serta meminta arahan dari para Menteri Keuangan dan Kesehatan G20 tentang beberapa kemajuan yang telah dicapai oleh Joint Finance and Health Task Force (JFHTF), antara lain: i) Perkembangan dari pembentukan Financial Intermediary Fund (FIF) untuk Kesiapsiagaan, Pencegahan, dan Penanggulangan Pandemi (PPR); dan ii) Mengembangkan rencana koordinasi antara Keuangan dan Kesehatan untuk kesiapsiagaan, pencegahan, dan penanggulangan pandemi (PPR). Hasil JFHMM hari ini akan menjadi bagian diskusi Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral di bulan Juli dan ditindaklanjuti pada JFHTF selanjutnya dalam rangka menuju JFHMM ke-2 yang akan diselenggarakan pada November 2022.

Mengenai mekanisme pembiayaan baru FIF, para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 menyepakati perlunya mekanisme pembiayaan multilateral baru yang didedikasikan untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan PPR pandemi. Para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 menyambut baik perkembangan yang telah dicapai dalam membentuk Dana Perantara Keuangan (FIF) yang ditempatkan di Bank Dunia selaku Wali Amanat, dan akan terus membahas tata kelola dan pengaturan operasional FIF menjelang rencana pengumuman formal pembentukannya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para Pemimpin G20 pada bulan November 2022.

Sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo, Indonesia sebagai Presidensi G20 memprioritaskan agenda bidang kesehatan global. Dalam konteks ini, Presidensi G20 Indonesia berkomitmen untuk memberikan hasil nyata yang mencakup untuk tidak sekedar mendukung tetapi juga berkontribusi pada proposal pendirian FIF. Menteri Sri Mulyani Indrawati, dalam sambutannya, menyatakan, “Dengan senang hati saya sampaikan bahwa komitmen kontribusi sejumlah hampir USD 1,1 miliar telah diamankan untuk FIF guna pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi. Angka tersebut sudah termasuk kontribusi sebesar USD 50 juta dari Indonesia.”

Menteri Sri Mulyani Indrawati juga mengingatkan hal mengenai semangat inklusivitas dalam penanganan pandemi global. “Yang paling penting adalah inklusivitas sehingga upaya kita dapat digabungkan, antara Kementerian Keuangan dan Kesehatan, serta antara negara maju dan berkembang. Hanya dengan begitu, kita dapat secara efektif siap untuk mengatasi pandemi global berikutnya bersama-sama.” kata Menteri Sri Mulyani. “Saya ingin mengapreasiasi peran sentral WHO dalam memerangi pandemi, dan pentingnya memasukkan suara negara-negara berkembang dalam pengaturan kelembagaan kami, untuk menciptakan sistem pencegahan dan respons pandemi yang paling efektif.” lanjut Menteri Sri Mulyani.

Mengenai masalah pengaturan koordinasi antara Keuangan dan Kesehatan PPR yang lebih luas, para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 umumnya sepakat tentang perlunya peningkatan koordinasi antara Keuangan dan Kesehatan agar lebih siap menghadapi pandemi di masa depan. Para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan memberikan arahan agar dilakukan pembahasan lebih lanjut tentang pengaturan koordinasi antara Keuangan dan Kesehatan.

Senada dengan Menteri Keuangan, Menteri Budi Gunadi Sadikin menyebutkan,“sejak dibentuk, Gugus Tugas Gabungan Keuangan-Kesehatan G20 telah membuat kemajuan dalam menjalankan mandatnya mengenai hal-hal yang disebutkan sebelumnya dan mendorong aksi kolektif untuk menanggapi pandemi dan berkontribusi menuju Arsitektur Kesehatan Global yang lebih kuat. Saya yakin bahwa bersama-sama, kita akan mencapai hasil nyata pada Oktober, termasuk pembentukan FIF dan kolaborasi platform koordinasi.”

Menteri Budi menekankan tujuan khusus FIF, yaitu untuk meningkatkan pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi secara global. Dan langkah penting selanjutnya adalah menentukan prioritas investasi FIF. “Pandemi ini telah menyadarkan kita akan pentingnya kesehatan dan ekonomi, dan saling ketergantungan antara keduanya. Hari ini menandai kemajuan penting dari sinergi yang lebih kuat antara sektor keuangan dan kesehatan, untuk mencegah, mempersiapkan, dan menanggapi pandemi di masa depan. Mari kita lanjutkan kemitraan penting ini untuk menciptakan kesehatan dan kemakmuran bagi semua.

Pertemuan Kedua G20 EDM-CSWG Hasilkan Pre-Zero Draft Ministerial Communique

Source : http://ppid.menlhk.go.id/

Jakarta, 21 Juni 2022 – Pertemuan Kedua Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (2nd EDM-CSWG) negara-negara anggota G20 di Jakarta resmi berakhir (21/06/2022). 

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian LHK, Laksmi Dhewanthi pada saat konferensi pers setelah penutupan menyampaikan bahwa pertemuan kedua di Jakarta ini menjadi sangat penting. Pertemuan kedua ini menjadi perantara pertemuan pertama di Yogyakarta dan pertemuan terakhir di Bali akhir Agustus nanti yang akan membahas Ministerial Communique. 

Untuk dapat menghasilkan Ministerial Communique tersebut pada Agustus nanti, sebanyak 19 sesi workshop yang membahas tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim telah dilaksanakan. 

“Pertemuan tadi sudah menghasilkan satu dokumen yang disebut pre-zero draft yang merupakan dokumen awal yang akan dibahas terus menerus sampai dengan nanti bulan Agustus menghasilkan suatu dokumen yang disebut Ministerial Communique of Environment and Climate and Sustainability,” Ungkap Laksmi.

Laksmi menerangkan lebih lanjut, pre-zero draft communique akan ditindaklajuti dengan beberapa pertemuan sampai dengan pertemuan tingkat menteri di Bali. “Pada saat ini kami belum bisa membagikan Communique-nya karena masih dalam proses, kita baru punya pre zero draft. Kita akan punya serangkaian diskusi-diskusi, pertemuan negosiasi untuk Communique tersebut, sampai nanti menjelang pertemuan ketiga di akhir Agustus di Bali,” jelas Laksmi.

Communique akan memuat elemen-elemen atau paragraf-paragraf yang mencerminkan komitmen. Laksmi memberikan contoh misalnya, nanti G20 berkomitmen untuk terus meningkatkan upaya-upaya untuk pengendalian perubahan iklim untuk atau agar bisa berkontribusi dalam menjamin kenaikan rata-rata suhu permukaan global tidak naik atau tidak lebih dari 1,5 C. Kemudian terdapat juga komitmen mendorong negara-negara maju untuk bisa memenuhi rencana pledge atau janjinya untuk memberikan pendanaan bagi negara-negara berkembang. 

“Communique ini merefleksikan hal-hal yang dibahas dalam pertemuan dan hal-hal yang ingin disampaikan oleh negara G20 di dalam EDM-CSWG ini sebagai komitmen, seruan, dan sebagai suatu rencana ke depannya,” terang Laksmi.

Laksmi mengutarakan bahwa, dengan menjadi Presidensi G20, Indonesia mempunyai kesempatan untuk menetapkan agenda besar G20. Terdapat 3 agenda utama, yaitu: (1) kontribusi kepada global health architecture, terutama karena Indonesia menjadi Presidensi G20 di masa pandemi Covid-19; (2) digital transformation untuk mendukung economic growth; dan (3) energy transition. 

“Dengan ditetapkannya 3 tema ini yang kemudian diturunkan dalam masing-masing Working Group, maka Indonesia memiliki kesempatan untuk mengedepankan dan menyuarakan agenda-agenda Indonesia untuk kemudian dilakukan atau diterima sebagai agenda negara-negara G20. Inisiatif yang dilakukan Indonesia selama ini di tingkat nasional akan diperkenalkan dan ditiru, serta bekerjasama dengan berbagai negara tidak hanya G20 tapi juga negara-negara mitra. Ini adalah kesempatan baik Indonesia untuk menunjukkan bahwa kita memimpin dalam beberapa agenda terkait dengan perlindungan lingkungan hidup dan kehutanan,” terang Laksmi.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian LHK, Sigit Reliantoro pada kesempatan ini juga menyampaikan bahwa pada bagian EDM, pertemuan kedua ini telah membahas mengenai Land Degradation, Halting Biodiversity Loss, Integrated and Sustainable Water Management, Resource Efficiency and Circular Economy, Marine Litter, Ocean Conservation, dan Sustainable Finance.

Sedangkan pada bagian CSWG terdapat 3 isu, yaitu: (1) bagaimana peran co-benefit antara aksi mitigasi dan aksi adaptasi untuk bisa menyiapkan suatu kondisi atau komunitas yang punya ketahanan iklim; (2) bagaimana memperkuat aksi dan kerja sama kemitraan khusus untuk inisiatif pengelolaan laut yang berkelanjutan; dan (3) bagaimana mendorong dan mempercepat implementasi dari NDC dengan pendekatan atau transisi yang berkelanjutan dari kondisi sekarang menjadi kondisi yang rendah karbon dan berketahanan iklim. 

“Melihat jalannya konferensi tadi, kita mendapatkan apresiasi mengenai isu-isu dan bagaimana kita bisa menggabungkan concern dari negara-negara G20 ini. Mengenai land degradation, sebenarnya tidak terlalu banyak catatan yang bertentangan, ada beberapa isu berkaitan dengan kesamaan target, dan target yang lebih ambisius, keduanya perlu disinkronkan dengan kebutuhan negara maju dan kebutuhan negara berkembang,” ungkap Sigit.

Sigit melanjutkan, dari EDM terdapat agenda dari kebijakan Presiden Joko Widodo mengenai pemulihan gambut dan pemulihan mangrove yang didorong untuk menjadi agenda G20. 

“Kita akan mendorong apa yang sudah dimiliki oleh Indonesia, kita memiliki regulasi dan technical expertise dan bukti-bukti kerja di lapangan yang dapat kita bagi terutama ke negara yang memiliki ekosistem gambut tropis, namun ide ini disambut juga oleh negara yang memiliki gambut dengan iklim sedang,” terang Sigit.

Menurut Sigit, pemulihan gambut dan mangrove tersebut merupakan isu yang sangat penting, meskipun hanya 3% dari permukaan bumi, namun peatland dan mangrove atau wetland memiliki fungsi yang luar biasa karena dapat menyerap CO2 empat kali lipat lebih besar daripada hutan tropis biasa.

“Kawasan gambut juga berfungsi sebagai pengatur air, dan mangrove berfungsi untuk pengurangan bencana seperti tsunami dan sebagainya. Itu penting bukan hanya saja bagi Indonesia namun juga bagi dunia,” ungkap Sigit.

Indonesia Tunjukkan Kepemimpinan dalam Pengelolaan Lingkungan dan Pengendalian Perubahan Iklim di Pertemuan G20 EDM-CSWG

Source : http://ppid.menlhk.go.id/

Jakarta, 20 Juni 2022 – Indonesia, dalam Presidensi G20 tahun ini menunjukkan kepemimpinan dan komitmen tinggi dalam berbagai isu strategis, salah satunya adalah pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pengendalian perubahan iklim. Isu tersebut dibahas dalam pertemuan Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (EDM-CSWG) negara-negara anggota G20.

Kepemimpinan Indonesia dalam pertemuan EDM-CSWG tercermin salah satunya dari berbagai isu prioritas yang disampaikan oleh Indonesia, sejak awal langsung mendapat dukungan dari negara-negara anggota, termasuk negara yang diundang, serta organisasi internasional.

Pertemuan pertama EDM-CSWG sukses diselenggarakan di Yogyakarta pada bulan Maret lalu, dan pertemuan kedua EDM-CSWG tengah berlangsung di Jakarta pada 19-22 Juni 2022. Jumlah delegasi pada EDM-CSWG kedua, yang hadir secara faktual juga mengalami peningkatan.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian LHK, Laksmi Dhenwanthi, yang juga sekaligus Chair 2nd EDM-CSWG pada saat pembukaan pertemuan (20/06/2022) menyampaikan bahwa, sebanyak 196 delegasi hadir dalam pertemuan kedua ini yang berasal dari negara anggota G20, negara undangan, dan organisasi internasional.

“Sebanyak 120 delegasi hadir secara faktual di Jakarta, dan 76 delegasi lainnya mengikuti pertemuan secara virtual,” ungkap Laksmi.

Source : http://ppid.menlhk.go.id/

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian LHK, Sigit Reliantoro yang juga sekaligus Co-Chair kali ini menerangkan bahwa setelah pertemuan pertama di Yogyakarta, Indonesia telah menerima masukan atas studi-studi pembahasan untuk EDM-CSWG. Sigit kemudian menyampaikan apresiasi atas masukan dan partisipasi dari para delegasi.

“Kami menghargai dan berterima kasih atas masukan berharga Anda yang kami terima setelah pertemuan EDM-CSWG pertama,” ungkap Sigit.

Agenda EDM-CSWG mempunyai arti strategis bagi Indonesia dalam Forum G20 untuk menunjukkan kepada dunia, komitmen Indonesia dalam pengelolaan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim yang berkelanjutan.

EDM-CSWG pada Presidensi G20 Indonesia kali ini, mengusung tiga isu prioritas yang akan menjadi fokus pembahasan dari setiap pertemuan. Isu tersebut antara lain: (1) Mendukung pemulihan yang berkelanjutan (supporting more sustainable recovery); (2) Peningkatan aksi berbasis daratan dan lautan untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing land-and sea-based actions to support environment protection and climate objectives); dan (3) Peningkatan mobilisasi sumber daya untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing resource mobilization to support environment protection and climate objectives).

Tiga isu prioritas dan misi-misi utama EDM-CSWG akan dibahas dan dirumuskan menjadi komitmen kolektif G20 melalui adopsi suatu Communiqué Menteri-Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 sebagai dokumen utama hasil pertemuan. Communiqué ini direncanakan akan diadopsi pada Pertemuan Tingkat Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 yang akan diselenggarakan pada 31 Agustus 2022 di Bali, Indonesia.

Pada EDM-CSWG yang kedua ini, akan dibahas Building Blocks yang membentuk Communiqué bersama tingkat Menteri. Pada bagian Environment Deputies Meeting (EDM) beberapa topik yang akan dibahas antara lain adalah Land Degradation, Halting Biodiversity Loss, Integrated and Sustainable Water Management, Resource Efficiency and Circular Economy, Marine Litter, Ocean Conservation, dan Sustainable Finance.

Kemudian, pada bagian Climate Sustainability Working Group (CSWG), dilakukan pembahasan 3 studi, yaitu: (1) Peran co-benefit mitigasi-adaptasi untuk menciptakan masa depan yang lebih tangguh bagi semua; (2) Percepatan Implementasi NDC dan transisi berkelanjutan menuju masa depan rendah emisi GRK dan ketahanan iklim melalui pemanfaatan nilai ekonomi karbon; dan (3) memperkuat aksi dan kemitraan untuk inisiatif kelautan yang berkelanjutan.

Istana Air Taman Sari Yogya : Manifestasi Sistem Kesehatan Global

Yogyakarta, 20 Juni 2022 – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin membuka pertemuan menteri kesehatan negara anggota G20 pertama di Yogyakarta pada Senin (20/6) dengan angenda pembahasan ‘Penguatan Arsitektur Kesehatan Global.’ Ia mengungkapkan bahwa filosofi sistem kesehatan global seperti Istana Air Taman Sari Yogyakarta.

Tidak jauh dari tempat pertemuan menteri kesehatan anggota G20, di sekitar keraton terdapat Istana Air Taman Sari di bekas taman kerajaan yang sudah ada dari abad ke-18. Awalnya dibangun sebagai taman kompleks untuk sultan bekerja, bermeditasi, dan beristirahat.

Taman Sari juga berfungsi sebagai benteng bagi keluarga kerajaan untuk bersembunyi, mengasingkan diri, dan untuk membela diri selama masa krisis.

Menkes Budi mengatakan sejarah Taman Sari menjadi inspirasi dalam pembentukan sistem kesehatan global.

“Sejarah dan filosofi Taman Sari menginspirasi kami, para pemimpin kesehatan global untuk membangun sistem kesehatan global yang tangguh pada saat masa krisis dan siaga dalam masa normal,” katanya di Yogyakarta, Senin (20/6).

Taman Sari dibangun pada waktu normal, tidak hanya untuk digunakan sehari-hari, tetapi juga untuk mengantisipasi krisis di masa depan.

“Saat kita menantikan dunia di mana pandemi telah mereda, kita harus memanfaatkannya untuk membangun sistem kesehatan global yang lebih tangguh, tidak hanya untuk hari ini tetapi juga untuk tantangan hari esok. Sebaiknya siapkan payung sebelum hujan,” ucap Menkes Budi.

Negara-negara anggota G20, lanjutnya, telah membuat langkah besar untuk memperkuat arsitektur kesehatan global, untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi ancaman kesehatan di masa depan.

Tahun ini, telah dibahas 3 agenda kesehatan global dengan 5 pembahasan antara lain;
Agenda 1: Memperkuat ketahanan sistem kesehatan global
● Pembahasan 1 : Ketersediaan sumber daya keuangan untuk pandemi pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanggulangan.
● Pembahasan 2 : Akses ke tindakan medis darurat.
● Pembahasan 3 : Membangun jaringan global pengawasan genomik laboratorium dan memperkuat mekanisme berbagi data tepercaya.

Agenda 2 : Menyelaraskan standar protokol kesehatan global
● Pembahasan 4 : Sertifikat vaksin yang diakui bersama di titik masuk.

Agenda 3: Memperluas pusat manufaktur dan penelitian global untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respon pandemi (PPR).
● Pembahasan 5: teknologi vaksin mRNA, perluasan global manufaktur dan pusat penelitian untuk pencegahan pandemi, kesiapsiagaan, dan respon.

Hingga saat ini telah terselenggara dua pertemuan kelompok kerja kesehatan yang membahas ‘Penyelarasan Standar Protokol Kesehatan Global’ dan ‘Memperkuat Ketahanan Sistem Kesehatan Global’. Selanjutnya pada bulan Agustus, akan dilaksanakan kelompok kerja kesehatan selanjutnya untuk membahas ‘Pemperluasan Manufaktur Global dan Pusat Penelitian, Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Respon untuk Pandemi’.

Nikmati Jakarta, Delegasi G20 EDM-CSWG Sepeda Santai di Hari Bebas Kendaraan Bermotor

Jakarta, 19 Juni 2022 – Beberapa Delegasi Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group yang kedua (2nd EDM-CSWG) negara anggota G20, mengikuti side event “Family Bike” pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HPKB) Jakarta (19/06/2022). Para delegasi bersepeda pada pagi hari dari Hotel Shangri-La ke Bundaran HI, dan istirahat di Taman Suropati.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian LHK, Sigit Reliantoro yang juga sekaligus Co-Chair EDM-CSWG kedua ini menyampaikan bahwa side event family bike ini merupakan bagian dari pembukaan pertemuan EDM-CSWG di Jakarta.

“Kegiatan ini juga salah satu upaya kita mengkampanyekan Jakarta sudah memiliki fasilitas publik yang mendorong pengendalian perubahan iklim dengan bersepeda. Kita bekerjasama dengan komunitas Bike to Work mengajak para delegasi untuk menikmati jakarta sambil berolahraga,” terang Sigit.

“Mudah-mudahan dengan suasana yang sejuk seperti ini membuat kita jadi lebih bersama, sehingga diskusi dan negosiasi nanti menjadi lancar dan cair menghasilkan tindak lanjut pertemuan yang lebih baik lagi,” lanjut Sigit di Taman Suropati.

Setelah sukses diselenggarakan di Yogyakarta pada bulan Maret lalu, pertemuan kedua EDM-CSWG negara anggota G20 kembali diselenggarakan di Jakarta pada 20-22 Juni 2022. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh 186 delegasi dari negara anggota G20, 5 negara undangan, 1 peserta observer dan 5 organisasi internasional.

Agenda EDM-CSWG mempunyai arti strategis bagi Indonesia dalam Forum G20 untuk menunjukkan kepada dunia, komitmen Indonesia dalam pengelolaan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim yang berkelanjutan.

EDM-CSWG pada Presidensi G20 Indonesia kali ini, mengusung tiga isu prioritas yang akan menjadi fokus pembahasan dari setiap pertemuan. Isu tersebut antara lain:

(1) Mendukung pemulihan yang berkelanjutan (supporting more sustainable recovery)

(2) Peningkatan aksi berbasis daratan dan lautan untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing land-and sea- based actions to support environment protection and climate objectives)

(3) Peningkatan mobilisasi sumber daya untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup dan tujuan pengendalian perubahan iklim (enhancing resource mobilization to support environment protection and climate objectives).

Tiga isu prioritas dan misi-misi utama EDM-CSWG akan dibahas dan dirumuskan menjadi komitmen kolektif G20 melalui adopsi suatu Communiqué Menteri-Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 sebagai dokumen utama hasil pertemuan. Communiqué ini direncanakan akan diadopsi pada Pertemuan Tingkat Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim G20 yang akan diselenggarakan pada 31 Agustus 2022 di Bali, Indonesia.

Pada EDM-CSWG yang kedua ini, akan dibahas Building Blocks yang membentuk Communiqué bersama tingkat Menteri. Pada bagian Environment Deputies Meeting (EDM) beberapa topik yang akan dibahas antara lain adalah Land Degradation, Halting Biodiversity Loss, Integrated and Sustainable Water Management, Resource Efficiency and Circular Economy, Marine Litter, Ocean Conservation, dan Sustainable Finance.

Kemudian, pada bagian Climate Sustainability Working Group (CSWG), dilakukan pembahasan 3 studi, yaitu: (1) Peran co-benefit mitigasi-adaptasi untuk menciptakan masa depan yang lebih tangguh bagi semua; (2) Percepatan Implementasi NDC dan transisi berkelanjutan menuju masa depan rendah emisi GRK dan ketahanan iklim melalui pemanfaatan nilai ekonomi karbon; dan (3) memperkuat aksi dan kemitraan untuk inisiatif kelautan yang berkelanjutan

Y20: Peran Pemuda Mendorong Inklusifitas dalam Presidensi G20 Indonesia

Manokwari, 18 Juni 2022 – Diskusi high-level panel mengenai peluang reformasi kebijakan untuk mewujudkan keberagaman dan inklusi turut mewarnai Pra-KTT Ke-4 Y20 di Manokwari, Papua Barat, Sabtu (18/6/2022).

Para narasumber high-level panel yang terdiri dari pembuat kebijakan serta praktisi mendorong keterlibatan anak muda di Presidensi G20 Indonesia. Apalagi mengingat para delegasi Y20 nantinya akan menghasilkan Communique atau rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada para pemimpin G20. Communique ini akan menyentuh topik keberagaman dan inklusi yang menjadi isu prioritas di Pra-KTT ke-4 Y20.

Sebagaimana diketahui, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memimpin kelompok kerja G20 Tourism Working Group (TWG). Menurut Menparekraf Sandiaga Uno, pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan anak muda dalam mendukung pariwisata Indonesia. Hal ini mengingat 55% penduduk Indonesia merupakan kalangan milenial dan Gen Z.

“Jika kita ingin relevan di TWG, kita perlu terlibat dengan para pemikir muda yang sangat progresif, kreatif, inovatif, untuk memberikan masukan dan ide. Kita perlu beradaptasi, berinovasi, berkolaborasi agar bisa recover together, recover stronger, dan tentunya, recover better,” Menparekraf Sandiaga Uno secara virtual Pra-KTT Ke-4 Y20 di Manokwari, Papua Barat.

Dian Triansyah Djani selaku G20 Indonesia Co-Sherpa mengatakan pemerintah berharap Presidensi G20 dapat mewujudkan hasil yang konkret, termasuk dalam memastikan pemulihan dari pandemi yang inklusif.

“Presiden menginginkan adanya deliverables yang konkret dalam bentuk proyek dan inisiatif. Di sini, anak muda bisa memainkan peran yang penting sebagai katalisator aksi untuk pemimpin G20. Kalian dapat menyuarakan ide hingga menginisiasi program dan kolaborasi,” jelas Dian yang juga menjabat sebagai Staf Khusus Program Prioritas Kemenlu.

White paper Y20 membahas empat isu prioritas, di antaranya keberagaman dan inklusi. Pertanyaannya adalah bagaimana menerjemahkannya ke program dan proyek yang konkret,” imbuhnya.

Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardani memberikan pandangannya terkait bagaimana delegasi muda dapat memastikan rekomendasi kebijakan tidak hanya actionable, tetapi juga didasarkan prinsip HAM. Menurutnya, anak muda perlu memiliki pemahaman terkait kesatuan, keadilan, serta prinsip perlindungan HAM. Jaleswari juga meminta anak muda untuk memberikan kritik konstruktif, serta secara konsisten menyuarakan perlindungan HAM.

“Saya mendorong anak muda percaya diri dalam menyampaikan rekomendasi mereka maupun kritik yang didukung oleh analisis mendalam. Kritik yang membagun tidak hanya bagian dari proses demokrasi, tetapi juga mengingatkan pemerintah agar terus menjalankan upayanya dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa,” jelas Jaleswari.

Sementara itu, Pendiri Wahid Institute, Yenny Wahid mengapresiasi kreativitas anak muda serta kepeduliannya terhadap masyarakat. Dirinya menilai, berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada seperti media sosial atau platform lainnya.

“Saya mengapresiasi Y20 karena telah memberikan anak muda sebuah ruang untuk mengutarakan pendapat. Mereka adalah motor pembangunan tidak hanya untuk di kemudian hari, tetapi juga yang sekarang,” jelas Yenny.

Pemuda memiliki kekuatan, keinginan, pengetahuan, dan keahlian untuk mendorong reformasi kebijakan yang lebih inklusif untuk keberagaman dan inkulsi.

Sebagaimana diketahui, puluhan delegasi muda dalam negeri maupun luar negeri hadir di Pra-KTT Ke-4 Y20. Ini juga menjadi pertama kalinya Y20 mengangkat isu keberagaman dan inklusi sebagai standalone policy track. Adapun Pra-KTT Ke-4 Y20 terbagi menjadi dua sub-tema pendidikan inklusif dan ekonomi kreatif.

Tentang Y20

Indonesian Youth Diplomacy (IYD), organisasi nirlaba kepemudaan, menjadi tuan rumah resmi untuk menyambut delegasi muda Y20 dari berbagai negara. Sebelum KTT Y20 Indonesia 2022 digelar, empat Pra-KTT untuk masing-masing bidang prioritas akan diadakan secara terpisah di empat kota di Indonesia, yakni Palembang (Pra-KTT I), Lombok (Pra-KTT II), Balikpapan (Pra-KTT III), dan Manokwari (Pra-KTT IV). Acara puncak KTT Y20 Indonesia 2022 direncanakan digelar di DKI Jakarta dan Bandung. Pra-KTT Ke-4 mengangkat isu prioritas keberagaman dan inklusi.

Indonesia Mendorong Peningkatan Aksesibilitas dan Keterjangkauan Instrumen Keuangan Berkelanjutan dalam Pertemuan ke-3 Kelompok Kerja Keuangan Berkelanjutan G20

Bali, 15 Juni, 2022 – Pertemuan Sustainable Finance Working Group ketiga (3rd SFWG) di bawah Kepresidenan G20 Indonesia melalui kolaborasi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia berhasil diselenggarakan di Bali pada 14 – 15 Juni 2022. Pertemuan SFWG ketiga ini dipimpin oleh co-chairs SFWG yakni Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok dan dimoderatori oleh United Nations Development Programme (UNDP) selaku Sekretariat SFWG.

Pertemuan tersebut dilaksanakan secara hybrid dan dihadiri oleh Anggota G20, undangan, dan organisasi internasional (IO). Sebelum Pertemuan inti SFWG digelar, Presidensi G20 Indonesia menyelenggarakan Forum on International Policy Levers for Sustainable Investment. Hasil rangkaian Forum dan pertemuan SFWG ketiga tersebut akan menjadi masukan bagi Pertemuan ketiga Deputi Keuangan dan Bank Sentral dan Pertemuan ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20, yang akan dilaksanakan di Bali bulan depan.

Sebagai kelanjutan dari seri pertemuan SFWG sebelumnya, dalam pertemuan ini para anggota bertemu kembali untuk membahas secara intensif perkembangan terkini dan studi kasus, di antaranya;

(i) diskusi pararel tentang model dukungan kebijakan pembiayaan dan investasi untuk mendukung transisi; (ii) mendorong komitmen lembaga keuangan dengan mengembangkan kerangka kerja yang mendukung transisi keuangan dan meningkatkan kredibilitas komitmen lembaga keuangan. Pengembangan kerangka transisi dimaksudkan untuk membantu memungkinkan pasar keuangan mendukung proses transisi ekonomi global berkelanjutan; (iii) perluasan instrumen keuangan berkelanjutan, dengan fokus pada peningkatan aksesibilitas dan keterjangkauan biaya. Dalam hal ini termasuk meningkatkan potensi akses pasar global ke dalam sektor keuangan berkelanjutan, pemetaan berbagai potensi resiko, serta mendorong peran lembaga keuangan multilateral (MDBs) dalam penyediaan fasilitas pembiayaan, dan meningkatkan peran sektor perbankan domestik dalam menciptakan pasar keuangan berkelanjutan nasional; (iv) memantau perkembangan terkini Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan G20.

Pertemuan tersebut dibuka secara resmi oleh Anita Iskandar, Direktur Kerja Sama Internasional Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai – Kementerian Keuangan mewakili Presidensi G20 Indonesia. Dalam pembukaannya, Anita menyatakan, “kehadiran kita semua di sini hari ini menegaskan komitmen G20 untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan iklim, termasuk mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon yang tertib, adil, dan terjangkau”. Untuk mendorong dan mendukung mekanisme transisi hijau, Presidensi Indonesia telah memprioritaskan mekanisme transisi energi menuju energi yang lebih bersih dan terjangkau. Termasuk pembahasan kebijakan yang intensif dalam meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan dalam penyusunan kebijakan Mekanisme Transisi Energi / Energy Transition Mechanism (ETM).

Dalam mendorong peningkatan aksesibilitas dan keterjangkauan instrumen keuangan berkelanjutan, para anggota menyoroti pentingnya peningkatan penggunaan teknologi digital untuk mengurangi beban biaya operasional dalam praktik keuangan berkelanjutan, khususnya bagi sektor Usaha Kecil Menengah (UKM), serta mendorong pemerintah untuk membantu perusahaan dalam mengadaptasi Sustainable Supply Chain Finance (SSCF). Selain itu, banyak anggota juga menyoroti pentingnya meningkatkan dukungan dan peran untuk UKM, serta mendorong peran Lembaga Keuangan Multilateral / Multilateral Development Banks (MDBs) dan Organisasi Internasional (OI) dalam memberikan dukungan pembiayaan dan asistensi bagi pengembangan kapasitas kelompok negara berkembang. Sementara itu, peningkatan aksesibilitas juga dapat dilakukan dengan menggunakan dukungan sistem perbankan yang melibatkan peran bank-bank lokal – nasional sebagai mitra dalam implementasi blended finance.

Dalam Forum Policy Levers, para anggota mendiskusikan dan menyoroti berbagai alternatif instrumen dan pendekatan yang saat ini tersedia dalam rangka mencapai proses transisi yang teratur, adil dan terjangkau. Dalam diskusi ini juga dicapai kesepakatan bahwa “tidak ada satu pendekatan mutlak yang akan cocok diterapkan untuk semua anggota”. Para anggota juga mendukung pengembangan kerangka keuangan transisi yang fleksibel dan dinamis, namun juga praktis, kredibel, dan disusun berbasis pada ilmu pengetahuan.

Presidensi G20 Indonesia berkomitmen untuk mendorong tindakan kolektif, dan mengembangkan model praktik untuk memberikan hasil nyata dalam mencapai Agenda 2030 untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan Perjanjian Paris.

Indonesia Sepakati Isu yang Jadi Prioritas pada EWG Ketiga

Jenewa, 14 Juni 2022 -Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan, M. Reza Hafiz Akbar mengatakan, dalam Pertemuan Ketiga Kelompok Kerja Bidang Ketenagakerjaan (The 3rd Employment Working Group/EWG) tanggal 14-15 Juni 2022, sudah disepakati beberapa isu prioritas yang ditawarkan oleh Indonesia selaku Presidensi G20.

Isu-isu tersebut mengenai percepatan dari prinsip-prinsip G20 dalam mengintegrasi pasar tenaga kerja bagi penyandang disabilitas, serta pelatihan kejuruan berbasis masyarakat untuk mengembangkan produktivitas secara berkelanjutan.

“Kita sudah sepakati beberapa isu prioritas, dan mendapatkan respon sangat luar biasa dari peserta Pertemuan Ketiga EWG,” kata Staf Khusus M. Reza Hafiz Akbar melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Kamis (16/6/2022).

Reza menyebut, Indonesia juga mengangkat isu penting mengenai penciptaan lapangan kerja dan usaha kecil menengah (UKM). Ia menambahkan, sekitar bulan Juli atau Agustus 2022, akan diadakan pertemuan tambahan secara virtual yang diikuti seluruh peserta Presidensi G20 khususnya bidang ketenagakerjaan.

Dalam pertemuan tambahan secara virtual ini, nantinya secara khusus membahas tentang perlindungan bagi pekerja.

“Mudah-mudahan target kita sebelum pertemuan tingkat Menteri Ketenagakerjaan anggota G20 pada September 2022 akan bermanfaat, khususnya di bidang ketenagakerjaan,” ucapnya.

EWG Ketiga G20 di Swiss, Sepakati Metode Deklarasi Menteri Perburuhan

Jenewa, 14 Juni 2022 – Pertemuan Ketiga Kelompok Kerja Bidang Ketenagakerjaan (The 3rd Employment Working Group/EWG) Presidensi Indonesia G20 tahun 2022 di Jenewa, Swiss, berlangsung sangat produktif di tengah isu politik global.

Agenda Forum Ketiga EWG G20 pada 14-15 Juni 2022, adalah penyusunan konsep Deklarasi Menteri Perburuhan/Ketenagakerjaan negara-negara G20 yang akan dibacakan pada pertemuan Menteri Ketenagakerjaan Anggota G20 di Bali, pada September 2022 mendatang.

Menurut Sekjen Kemnaker Anwar Sanusi, seluruh peserta Pertemuan Ketiga EWG telah sepakat menyelesaikan deklarasi Menteri Perburuhan G20 di Bali. “Saya ucapkan terima kasih meski belum selesai, tapi kita dapat menyepakati metode atau langkah-langkah untuk menyelesaikan deklarasi para menaker tersebut, ” kata Anwar Sanusi melalui Siaran Pers Biro Humas Kemnaker, di Jakarta, Rabu (15/6/2022).

Anwar Sanusi mengatakan secara prinsip, seluruh peserta yang hadir dalam Forum Ketiga EWG G20, sepakat menjadikan Presidensi G20 Indonesia pada bulan September mendatang, sebagai momentum positif dengan menyetujui berbagai isu yang sudah disiapkan dalam waktu sangat panjang.

“Mudah-mudahan hal yang belum selesai, kita dapat teruskan sampai pertemuan-pertemuan bersifat virtual pada pertengahan Juli dan medio Agustus, ” ujarnya.

Anwar Sanusi menjelaskan hari pertama Forum Ketiga EWG G20, peserta Forum mendengarkan laporan dari the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), and International Labour Organization (ILO) terkait dua isu. Pertama, isu Brisbane Goal 2025 yakni bagaimana kita mendorong kesetaraan akses dalam hal hak dan kewajiban antara perempuan dengan laki-laki dalam bidang ketenagakerjaan.

Selain itu, juga dipaparkan sejauhmana kinerja pekerja laki-laki dengan perempuan yang sama-sama terdampak COVID-19. Beragam isu yang muncul di pertemuan, membuat peserta memiliki kebijakan untuk merespon pandemi COVID-19 berikut target dari kebijakan tersebut.

“Tapi jika dilihat dari paparan OECD dan ILO, kita melihat adanya progres dari Indonesia yang cukup optimistis. Mudah-mudahan target kita untuk Antalia dan Brisbane ini bisa dijalankan dengan target yang sudah ditetapkan bersama, ” kata Anwar Sanusi.