Libatkan multistakeholders, Indonesia perjuangkan Isu Digital lewat DEWG

Jakarta, 26 Januari 2022 – Kementerian Komunikasi dan Informatika melibatkan berbagai pihak untuk membahas tiga isu prioritas Forum Digital Economy Working Group (DEWG) dalam Presidensi G20 Indonesia Tahun 2022.


Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo Mira Tayyiba yang menjabat sebagai Chair DEWG, menyatakan kerja sama lintas sektor untuk membahas isu Connectivity and Post-Covid Recovery, Digital Literacy dan Digital Talent, dan Cross Border Data Flow/Data Free Flow with Trust akan melibatkan National Knowledge Partner dan National Strategic Stakeholders.

“Pada kesempatan ini, kami membuka kesempatan untuk berkolaborasi dengan siapa saja. Kita bekerja sama dengan akademisi dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjajaran dan Centre for Strategic and International Studies yang menjadi knowledge partner kita,” ujarnya dalam Media Gathering G20 yang berlangsung hibrida dari Kaum Jakarta Pusat, Rabu (26/01/2022).

Menurut Chair Mira Tayyiba, Kementerian Kominfo juga melibatkan National Strategic Stakeholders serta kementerian dan lembaga untuk membahas isu digital sesuai substansi pada sektor-sektor terkait.

“Misalnya berbicara mengenai employment dengan Kemenaker, pendidikan dengan Kemendikbudristek. Selain dengan kementerian lembaga, kita juga bekerjasama dengan dunia usaha, teman-teman asosiasi, e-commerce, big data, cyber security, konektivitas, literasi digital semua kita ajak,” jelasnya.

Adapun National Strategic Stakeholders melibatkan Asosiasi Big Data dan AI, Masyarakat Telematika Indonesia, Siberkreasi, Asosiasi e-Commerce Indonesia, Indonesia Cyber Security Forum, dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

“Jadi DEWG ini kita ekspektasikan untuk mendeliver program-program nyata yang relevan untuk semuanya. Bukan saja negara maju, tetapi juga negara berkembang dan menjadi panggung kita bersama karena harus kita kerjakan sama-sama,” paparnya.

Cakup Semua Aspek

Chair DEWG G20 menjelaskan mengenai forum DEWG merupakan isu digital yang mencakup seluruh aspek kehidupan pembangunan, terutama berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang berdampak pada semua sektor.

“Yang akan dibahas di isu Sherpa Track itu banyak mulai dari perdagangan, perindustrian, pendidikan, kesehatan dan masih banyak lagi, itu disebut dengan working group yang dikelola oleh kementerian dan lembaga. Hampir semua itu mengangkat isu digital, mau berbicara tentang pendidikan kaitannya dengan digital, employment juga tentang digital,” ujarnya.

Menurut Sekjen Mira Tayyiba, Kementerian Kominfo diberikan mandat dari Sherpa Track sebagai pengampu DEWG untuk menjadi ‘ketua kelas’ untuk su-isu digital lintas sektor.

“Tugas Kominfo adalah untuk men-streamlining semua isu digital agar koheren dan kohesif. Misalnya isu pemberdayaan perempuan atau perlu perlindungan anak, itu akan dijawab dengan literasi digital, nanti kita jawab juga dengan online safety,” jelasnya.

Kementerian Kominfo berkomitmen untuk menggunakan momentum Presidensi G20 Indonesia tidak hanya untuk membawa sektor digital lewat tiga isu DEWG secara nasional dan internasional.

“Jadi isu-isu ini bukan saja menjadi agenda-agenda nasional yang kita perjuangkan di global, tetapi kita juga menggunakan kesempatan ini untuk mengkonsolidasikan pengelolaan isu digital nasional. Karena tidak heran kalau kemudian semua sektor berbicara tentang digital, karena digital itu kan fluit, bisa digunakan oleh banyak orang,” papar Sekjen Kementerian Kominfo.

Dukung Persidangan DEWG
Juru Bicara Kementerian Kominfo, yang juga menjabat sebagai Co Chair DEWG Indonesia, Dedy Permadi menyatakan, keterlibatan National Knowledge Partner untuk membahas dan menyusun substansi dari persidangan forum DEWG.

“Kita melibatkan National Knowladge Partner atau mitra substansi nasional yang terdiri UI, UGM, Unpad dan CSIS Indonesia. Keempat National Knowladge Partner itu bersama-sama dengan Kominfo menyusun substansi dari persidangan. Kita juga mengajak stakeholder yang lain untuk bekerja bersama-sama mendukung kesuksesan G20 ini,” jelasnya

Dedy Permadi menjelaskan alasan memilih empat partner tersebut tersebut agar diharapkan selama forum DEWG berlangsung mendaptkan substansi dari hasil-hasil persidangan.

“Pertimbangannya adalah kita berusaha untuk seinklusif mungkin sebetulnya, tetapi kan tidak semuanya bisa dilibatkan. Jadi kita memandang bahwa secara substansi, kita bisa saling melengkapi dengan knowladge partner,” tuturnya.

Sebelumnya, Jubir Kementerian Kominfo menjelaskan mengenai kelahiran Presidensi G20 yang dilatarbelakangi persoalan global. Mulai Asian Financial Crisis tahun 1997-1998, yang kemudian naik menjadi Global Financial Crisis.

“Dan forum ini dibentuk karena dulu G7 itu tidak cukup menjawab permasalahan yang berusaha untuk bisa merangkul negara-negara yang sebenarnya bukan hanya negara-negara kaya, tapi juga negara-negara kelas menengah. Jadi dibentuklah G20, dari awal pembentukannya pun sudah menjawab permasalahan global, karena waktu krisis pun kita mengalami itu,” paparnya.

Dalam perjalanannya, terdapat banyaknya persoalan global yang juga dibantu dengan kehadiran forum G20. Seperti pada tahun 2008 saat krisis ekonomi global kembali terjadi yang membuat Indonesia juga terpuruk. Termasuk pada tahun 2009 terjadi krisis nuklir Irak dan tahun 2017 krisis Suriah.

“Kemudian 2019 kita ada perang dagang US dengan Tiongkok, itu pun G20 menjadi bagian dari penyelesaian masalah-masalah dunia. Termasuk ketika Covid-19 melanda, kemudian kita ada forum G20 yang berusaha untuk membicarakan solusinya. Di Finance Track misalnya, ada penjadwalan ulang pembayaran hutang agar negara-negara tetap bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19,” jelas Dedy Permadi.

Jubir Dedy Permadi menegaskan isu digital menjadi sangat penting untuk Indonesia, karena sejak tahun 2019 Indonesia merupakan negara yang memperjuangkan kenaikan kelas isu digital dari gugus tugas menjadi Kelompok kerja.

“Indonesia yang memperjuangkan sejak 2019, tahun 2020 diperjuangkan kembali dan disepakati kenaikan kelasnya. Jadi Indonesia adalah negara pertama yang memimpin kelompok kerja ekonomi digital di forum G20,” tandasnya.

Tags: No tags

Comments are closed.